Sunday, September 30, 2012

jambu biji mutiara: pohon katai sarat buah

Jambu biji mutiara

jambuJambu biji mutiara di kebun Eric Wiraga tingginya hanya sepinggang orang dewasa. Hamparan kebun jambu mutiara seluas 1 ha itu sungguh menakjubkan. Hampir seluruh tanaman tingginya hanya sepinggang hingga sedada orang dewasa. “Umurnya baru setahun,” ujar Eric Wiraga, empunya kebun jambu yang juga pengusaha tekstil di Bandung, Jawa Barat, itu. Tanaman tertata rapi dengan jarak tanam 2,5 m x 2,5 m. Total populasi 400 tanaman.

Meski bersosok pendek, tanaman jambu anggota famili Myrtaceae itu sarat buah. Saat Trubus berkunjung pada pertengahan pertengahan Januari 2012, setiap tanaman rata-rata menggendong 8-10 buah yang siap panen seukuran kepalan tangan orang dewasa. Menurut penangkar buah asal Thailand yang kini menetap di Karawang, Jawa Barat, Narin Watana Anurak, jambu mutiara memang tergolong genjah. jambu introduksi asal negeri Gajah Putih itu berbuah perdana pada umur 7 bulan setelah tanam dari bibit asal cangkok.

Pangkas rutin

Karena diameter cabang yang menggendong buah baru seukuran kelingking, Eric mengikat cabang menggunakan tali plastik ke sebilah bambu yang ditancapkan dekat batang utama. “Dengan begitu cabang jambu yang berbuah tidak terkulai menyentuh tanah,” ujar Eric. Pada cabang dengan buah lebih banyak, Eric menopang langsung dengan bambu. Eric sengaja mempertahankan tanaman tetap pendek. “Dengan begitu lebih mudah untuk memanen buah,” ujar penggemar koi itu. Setiap cabang yang menjulang melebihi 1 m ia pangkas. Pemangkasan juga merangsang munculnya percabangan baru. Semakin banyak cabang, maka semakin banyak titik tumbuh yang dapat memunculkan buah. Pemilik kebun durian di Subang, Jawa Barat, itu juga memangkas percabangan yang terlalu rapat. Tujuannya agar sirkulasi udara berjalan lancar dan iklim mikro tidak terlalu lembap. Harap mafhum, lokasi kebun di perbukitan berketinggian 600 meter di atas permukaan laut (m dpl) yang berkelembapan tinggi. Pada kondisi itu, bila tajuk terlalu rapat risiko serangan cendawan penyebab busuk tinggi. Pemangkasan juga dapat memicu keluarnya bunga. Ini kali pertama jambu biji mutiara berbuah di kebun Eric. Dari 400 pohon, hampir seluruhnya sudah menghasilkan buah. Padahal, tidak ada perlakuan khusus untuk membuahkan. Eric hanya rutin membenamkan 25 kg pupuk kotoran sapi yang telah terurai sempurna untuk masing-masing tanaman setiap 6 bulan. Sementara pupuk tambahan berupa NPK berimbang hanya diberikan untuk tanaman yang pertumbuhannya kurang optimal. Cirinya daun terlihat kurang segar seperti berwarna hijau pucat. Pupuk tambahan juga diberikan saat tanaman selesai panen. Menurut Yos Sutiyoso, ahli pupuk di Jakarta, tanaman memerlukan pasokan energi tinggi untuk mendorong pertumbuhan buah. Nah, untuk memulihkan energi yang terkuras itu perlu tambahan nutrisi. Dosisnya 10 g NPK per pohon. Kuncinya memang pada pemangkasan. Selang 4 pekan pascapemangkasan, biasanya bunga muncul dan bersalin jadi buah siap panen 14-16 pekan kemudian. Tanaman bisa dibuahkan terus-menerus bila nutrisi mencukupi. Eric membungkus setiap buah menggunakan jaring styrofoam sejak buah seukuran bola pingpong. Tujuannya agar nantinya buah tidak memar saat dipanen dan pengangkutan. Buah juga dibalut lagi dengan plastik transparan. Itu untuk mencegah serangan  lalat buah Bactrocera dorsalis penyebab buah busuk. Menurut Yos Sutiyoso, ahli budidaya alumnus Institut Pertanian Bogor, ujung plastik sebaiknya dipotong untuk ventilasi udara. Dengan begitu kelembapan di dalam tidak terlalu tinggi. Bila tidak dilubangi bagian dalam plastik akan mengembun akibat evaporasi pada buah jambu. “Pada kondisi itu sangat kondusif untuk cendawan berkembang biak,” ujarnya.

Dominan organik
Eric memetik salah satu buah seukuran kepalan tangan orang dewasa. Ukuran jambu mutiara di kebun Eric nyaris seragam, berbobot 400-500 g per buah. Itu karena Eric tak “serakah” mempertahankan buah. Bila buah muncul bergerombol, ia hanya mempertahankan 1 buah yang berukuran paling besar per titik tunas. Menurut kepala Pusat Kajian Buah Tropika Institut Pertanian Bogor (PKBT-IPB), Sobir PhD, dengan seleksi buah nutrisi akan termanfaatkan secara optimal sehingga buah menjadi lebih besar dan relatif seragam. Setelah membuka bungkus, pria murah senyum itu lantas merogoh saku dan mengeluarkan pisau lipat untuk membelah jambu berwarna hijau dan mulus itu. Krek...  Begitu terbelah, terlihat daging buah yang tebal dan berbiji sedikit. Saat Trubus mencicip, daging buah terasa renyah. Rasanya sangat manis. Tekstur jambu mutiara renyah dan manis karena jumlah nutrisi organik dari pupuk kotoran sapi yang melimpah. Menurut Peni Wahyu Prihandini, peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, pada kotoran sapi mengandung 1,11% nitrogen (N), 1,62% fosfor (P), dan 7,26% kalium (K).

Dr Kharisun, ahli pupuk dari Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, menuturkan pupuk yang mengandung unsur kalium dapat meningkatkan kemanisan buah. ”Kalium berperan dalam proses metabolisme karbohidrat. Kandungan karbohidrat memberikan rasa manis pada buah,” ujarnya. Sementara tekstur yang renyah berasal dari kandungan hara mikro seperti kalsium yang berperan memperkuat dinding sel sehingga lebih kaku.

Sayangnya teknik budidaya mempertahankan tanaman tetap pendek itu menjadi sasaran empuk babi hutan. Celeng mudah menggasak buah menjelang matang. Maklum, di sekitar kebun masih berupa hutan. Itulah sebabnya Eric memasang beberapa perangkap di beberapa titik. “Tapi tetap saja masih ada yang kecolongan,” ujarnya.

Dari 400 pohon, Eric memanen rata-rata 20 kg dua kali sepekan. Ia menjual hasil panen di gerai buah miliknya di lokasi kebun di Subang, Jawa Barat. Harga jual Rp15.000 per kg. “Saya belum menjual ke pasar swalayan karena pasokan masih terbatas,” ujarnya. Produksi mutiara terus naik seiring bertambahnya umur tanaman. Pada umur tanaman 3 tahun setiap hektar tanaman jambu mutiara hasilkan 10 ton per tahun. (Imam Wiguna). Description: jambu biji mutiara: pohon katai sarat buah
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: jambu biji mutiara: pohon katai sarat buah

jambu air madu hijau

jambu

Jambu Air

Pertanyaan itu tercetus begitu saja ketika awak redaksi Majalah Trubus mencicip jambu air kiriman Sunardi, penangkar buah di Kabupaten Binjai, Sumatera Utara. Beberapa hari sebelumnya pemilik nurseri Mulia Tani itu mengabari tentang sebuah jambu air istimewa. “Warnanya hijau, tapi rasanya manis sekali,” katanya lewat pesawat telepon. Senin pada minggu terakhir Februari 2012 sebuah dus berisi 24 jambu air kiriman Sunardi tiba di kantor redaksi di Cimanggis, Depok, Jawa Barat, setelah menempuh perjalanan melalui darat selama 2 hari. Begitu kemasan dibuka terlihat buah dalam bungkusan tisu. Sunardi mengemas jambu air dengan hati-hati supaya tidak rusak di perjalanan.

Di balik selimut tisu itu terlihat jambu air berkulit hijau dengan semburat merah di bagian dekat cuping. Sosoknya relatif besar, ketika ditimbang bobot buah rata-rata 125-150 gram. Decak kagum langsung terdengar begitu buah dicicip. Harap mafhum, buah berbentuk lonceng itu begitu manis, terutama di bagian dekat cuping. Dari pengukuran dengan refraktometer kadar kadar gula mencapai 10,5o briks. Ketika mengunyah terdengar bunyi kres.. kres.. kres tanda daging buah renyah.

Jambu Manis renyah

Kepala Pusat Kajian Buah Tropika Institut Pertanian Bogor (PKBT-IPB), Sobir PhD yang Trubus kirimi jambu air dari Sumatera Utara itu juga memuji. “Keunggulan jambu air ini terletak pada daging buahnya yang renyah dan manisnya pas. Kandungan airnya juga tidak terlalu banyak sehingga daya simpannya bisa lebih lama,” kata Sobir PhD. Pantas selama 2 hari perjalanan dari Binjai ke Depok bagian buah yang rusak hanya sedikit. “Hanya dari segi penampilan memang kalah atraktif dibanding citra yang berwarna merah,” kata doktor Genetika Molekuler dari Okayama University, Jepang, itu.

Penampilan itu juga yang sempat membuat Prof Roedhy Poerwanto, ahli buah di IPB, mula-mula tidak antusias mencicip jambu air itu. “Penampilannya kurang atraktif. Tapi begitu buah dimakan, rasanya enak sekali. Saya menyukai kerenyahan daging buahnya,” tutur doktor Bioresources Production Science dari Ehime University, Jepang, itu. Keunggulan lain buah tidak berbiji. Rasa enak dan tekstur renyah pula yang membuat Kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) IV Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, Ir Sugeng Prasetyo, terkesan.

“Dari segi penampilan dan rasa sebenarnya masih kalah dengan cincalo,” tutur Dr Ir Moh Reza Tirtawinata, ahli buah di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Cincalo varietas jambu air berwarna hijau yang sudah dilepas sebagai varietas unggul nasional. Keistimewaannya kadar kemanisan mencapai 10o briks. Sosok buah menyerupai lonceng. Dalam skala 1-10 Reza memberi nilai 9 untuk penampilan dan rasa citra; cincalo, 7,5; dan jambu air yang baru dicicip itu 6,5.

Jambu air “baru” itu merupakan hasil panen dari kebun milik sepupu Sunardi, Agus Darmadi, di Langkat, Sumatera Utara. Dari tanaman yang kini rata-rata berumur 2 tahun, Agus sudah 4 kali memanen buah. Pada panen pertama saat umur tanaman 14 bulan pascatanam ia mendapat 10 kg buah per tanaman. Tanaman bisa dibuahkan 2-3 kali dalam setahun. Sejatinya, Sunardi juga menanam Syzygium samarangense, tetapi tanaman baru berbunga, umur 10 bulan pascatanam. Pria kelahiran Binjai itu menanam jambu air itu di dalam polibag berukuran 60 cm x 70 cm berjarak 2 m x 2 m. Total jenderal Sunardi menanam 200 pohon asal bibit sambung di tiga kebunnya di Langkat.

Asal Taiwan

Sunardi mendapat bibit tanaman anggota famili Myrtaceae asal cangkok itu dari Agus. Agus memperoleh bibit jambu air itu dari pekebun di Medan. Menurut kabar jambu air itu asal Taiwan. “Tak ada yang tahu pasti siapa dan kapan tepatnya jambu air itu masuk ke Sumatera Utara. Yang jelas 5 tahun lalu ada beberapa pekebun di Medan yang membudidayakannya,” kata Sunardi. Menurut penangkar buah sejak 15 tahun silam itu, pohon tertua yang ia temui berada di rumah seorang kolektor di Medan. “Diperkirakan berumur 20 tahun,” ujar pria kelahiran Binjai 43 tahun silam itu.

Tak heran bila namanya beragam. “Ada yang menyebut green star, lilin hijau, dan super hijau,” kata alumnus STM jurusan otomotif itu. Sementara di Langkat dan Binjai jambu air itu dijuluki madu hijau karena warna buahnya yang hijau dan rasanya manis seperti madu.

Menurut Arnold Simatupang, pengawas kultivar dari Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) IV Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, madu hijau sudah dikebunkan secara komersial sejak 5 tahun silam. Ketika itu ada sekitar 5 pekebun, rata-rata menanam 100-200 pohon. Hasil panen dijual ke Singapura dan  Malaysia. Buah tidak lolos sortir dijual ke pasar swalayan di Medan, Batam (Kepulauan Riau), dan Jakarta. Sayang penanaman terbatas pada komunitas tertentu.

Dalam polibag

Bermodal satu bibit dari pekebun di Medan itu Agus memperbanyak tanaman. Saat ini ada minimal 27 pekebun jambu madu hijau di Langkat. Mereka memperoleh bibitnya dari Agus. Setiap pekebun menanam minimal 50 bibit di dalam polibag. Dari minimal 27 pekebun itu ada 4 orang yang sudah menuai hasil karena umur tanaman lebih dari setahun. Toyib, misalnya, memanen 150 kg buah per hari dari 400 pohon madu hijau berumur 14 bulan. Buah itu langsung dibeli oleh agen buah pemasok ke pasar swalayan. Mayoritas buah, 95%, lolos sortir: buah minimal berbobot 50 gram dan mendapat harga Rp30.000/kg di tingkat pekebun.Saat ini jambu air itu dalam proses pelengkapan data untuk didaftarkan sebagai varietas unggul nasional. “jambu air ini akan didaftarkan ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman di Kementerian Pertanian,” kata Arnold. Dengan demikian semakin banyak pekebun yang bisa membudidayakan dan konsumen yang mencicip kelezatan jambu air semanis gula itu. (Rosy Nur Apriyanti)

jambu madu hijau berkadar kemanisan 10,5 briks
Jambu madu hijau berbuah saat tanaman berumur setahun asal bibit cangkok
Berbobot 150-200 gram/buah
Dr Ir Moh Reza Tirtawinata, dalam skala 1-10 penampilan dan rasa jambu madu hijau bernila 6,5
Citra berwarna lebih atraktif daripada jambu madu hijau Description: jambu air madu hijau
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: jambu air madu hijau

Rahasia Sang Jawara Kontes Buah

Buah

buahBelasan buah dan sosok sehat, modal tabulampot srikaya menjadi juara. Sepintas tak terlihat penampilan jawara pada tanaman buah dalam pot (tabulampot) srikaya new varietas bernomor peserta 10 itu. Dari kejauhan sosoknya didominasi daun berwarna hijau. Di balik daun itulah tersembunyi belasan buah beragam ukuran-sebesar bola pingpong hingga bola tenis-yang menggantung di cabang-cabang tanaman yang dipangkas rapi. Warna buah serupa dengan warna daun. Pantas penampilan tabulampot srikaya setinggi 3 m itu kalah atraktif dibanding kontestan lain pada lomba tabulampot yang diselenggarakan Dinas Kelautan dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta di Pusat Pengembangan Benih Tanaman Pangan Hortikultura dan Kehutanan di Jakarta Selatan. Pesaingnya: tabulampot jeruk sunkist valencia, mangga motinwa, jeruk baby, dan lengkeng terlihat lebih menggiurkan dengan buah bergelayut di ujung cabang. Warna buah kontras dengan warna daun.

Buah Prima

“Penampilan peserta nomor 10 amat sehat, daun lebat, hijau segar, serta bebas serangan hama dan penyakit,” kata Ir AF Margianasari, juri dari Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Buah mencapai belasan menjadi poin lebih lain. Sebab selama ini srikaya new varietas sulit dibuahkan-tanpa perlakuan khusus, apalagi jika ditanam dalam pot. Tiga juri terdiri atas Margianasari, Syah Angkasa (Trubus), dan Olivia Asean Napitupulu dari Direktorat Tanaman buah Kementerian Pertanian pun menabalkan tabulampot srikaya milik Muhammad Jazuli sebagai juara dengan total nilai 246,7; tertinggi di antara 23 kontestan. Sang jawara unggul tipis dari peserta nomor 4, tabulampot mangga motinwa milik Yuli Suryamin dari Jakarta Selatan. Mangga dalam pot setinggi 1,5 m itu memamerkan buah bersosok lonjong dengan semburat merah di pangkal buah yang bergantungan di semua ujung cabang. Penampilan buah mirip mangga cin nang wang. Sosok tanaman sehat, antara lain terlihat dari daun dan buah yang segar. Mangga asal Thailand itu mudah dibuahkan sehingga cocok sebagai tanaman dalam pot kesukaan hobiis. “Namun, dengan begitu tantangan untuk membuahkannya juga kecil. Ibaratnya siapa pun yang menanam, mangga tetap mudah berbuah lebat,” tutur Margianasari.

Menurut Eddy Soesanto, penangkar buah di Bogor, Jawa Barat, secara umum mangga, belimbing, jeruk, dan jambu air jenis buah yang gampang dibuahkan di pot. Di antara jenis mangga, varietas chokanan paling mudah dibuahkan. Berikutnya namdokmai, mundeunkau, brasil, dan apel. Pantas jika tabulampot mangga apel bernomor peserta 9 digelayuti banyak buah. Penampilan juara ke-3 pun patut diacungi jempol. Tabulampot jeruk sunkist valencia di pot nomor 6itu buahnya lebat. Satu di antaranya amat mencolok, dengan ukuran buah 2 kali ukuran normal. Padahal umur tanaman baru 12 bulan. Idealnya tabulampot jeruk dibuahkan pada umur 1,5 tahun supaya produktivitas lebih optimal. Lomba juga diikuti tabulampot lengkeng, anggur, dan nangka mini yang layak jadi pilihan para hobiis. (Syah Angkasa)

Penyerahan hadiah lomba oleh gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo
Juara 1, srikaya new varietas, 2 tahun berbuah 4 kali
Sunkist valensia, juara ke-3. buahnya 2 kali ukuran normal
Mangga motinwa, juara ke-2 Description: Rahasia Sang Jawara Kontes Buah
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: Rahasia Sang Jawara Kontes Buah

Naga serba jumbo berkat urine ternak

Buah Naga Berbobot 1 kg

nagaBuah naga berbobot 1 kg dan rasanya manis berkat pupuk urine dan kotoran kambing. Sebanyak 600 tiang pancang berbaris rapi di kebun seluas 1 ha, dari total lahan 2,5 ha di Desa Pasirbentik, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Masing-masing tiang terdiri dari 4 tanaman buah naga kuning berdaging putih Selenicereus megalanthus, buah naga merah berdaging putih Hylocereus undatus, atau buah naga daging merah alias superred H. costaricensis. Dari setiap tanaman menjuntai 10-20 sulur. Setiap sulur hanya memamerkan 2-3 buah.

Sulaksono Tedjo Pawoko, empunya kebun, memang sengaja menyeleksi buah. Dari 5 bunga yang menjadi buah, hanya 3 buah dipertahankan. Alhasil, mayoritas buah berukuran besar. Buah naga kuning, misalnya, minimal 50% dari total buah berbobot 200-270 g per buah. Lazimnya sekitar 180 gram. Sementara buah naga merah berdaging putih dan merah masing-masing minimal berbobot 600 g dan 400 g. Ukuran buah kedua genus Hylocereus itu maksimal 1 kg.

Selain bongsor, rasa buah pun manis. Buah naga daging putih dan merah misalnya, berkadar kemanisan 13o briks. “Rasa manisnya hingga daging buah bagian dalam. Padahal, biasanya buah naga berdaging putih rasanya langu dan kurang manis,” kata Utami Kartika Putri, redaktur senior Trubus saat mencicip si putih. Si kulit kuning bahkan lebih manis dengan kadar kemanisan mencapai 17o briks.

Sejak Mekar Naga Jumbo

Ukuran jumbo dan rasa manis itu berkat seleksi buah dan pemupukan menggunakan urine kambing. “Biasanya dalam satu sulur hanya dipertahankan 3 buah dengan jarak antarbuah 25 cm,” kata Tedjo yang bekerja di perusahaan data komunikasi di Jakarta Selatan itu. Dengan begitu nutrisi tidak banyak terbagi-bagi sehingga buah tumbuh maksimal.

Pupuk urine kambing diberikan sejak tanaman berbunga hingga buah panen. Caranya dengan menyiramkan 0,5 liter urine kambing hasil fermentasi selama 3 hari secara merata ke tanah di sekitar tanaman. Frekuensi pemberian setiap 2 minggu. Tedjo mengaplikasikan pemberian urine kambing dari pengalaman pekebun buah naga lain. “Pemberian urine kambing membuat rasa buah jadi lebih manis, makanya saya coba. Ternyata hasilnya sangat memuaskan,” ujar pria berusia 57 tahun itu.

Penelitian Adi Prawoto dan Gatut Supriadji dari Pusat Penelitian Perkebunan Jember menunjukkan urine ternak pemakan rumput kaya hormon auksin dan giberelin. Kadar auksin dalam urine ternak 162-783 ppm, sementara kandungan giberelin 0-938 ppm tergantung jenis pakan.

“Auksin dalam urine ternak seperti sapi dan kambing berperan memacu pertumbuhan tunas tanaman dan turut mempengaruhi pertumbuhan buah,” kata Ir Yos Sutiyoso, pakar pertanian di Jakarta. Ir Edhi Sandra MS, ahli fisiologi tanaman dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) menuturkan urine ternak seperti sapi dan kambing mengandung asam amino tinggi, asam organik lain, dan energi.

Pupuk organik Untuk Naga Jumbo

Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman, setiap bulan Tedjo membenamkan 2 ember volume 5 liter pupuk organik berupa campuran pupuk kandang sapi dan kambing per tiang pancang. Pupuk serupa juga diberikan pada awal tanam dengan dosis sama. Pada awal tanam, alumnus jurusan Akuntansi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu juga memberikan pupuk kimia berupa kalium nitrat sebanyak 1 sendok teh per pancang.

Menurut Yos selain hormon, urine dan pupuk kandang ternak juga mengandung 1,6% nitrogen, 0,625% fosfor, dan 1,2%  kalium. Jumlahnya memang lebih sedikit bila dibandingkan dengan pupuk kimia, misalnya NPK 15:15:15. Itu sebabnya untuk mendapatkan hasil optimal, diperlukan penambahan unsur hara seperti boron (membantu proses pembelahan sel), magnesium (kandungan utama klorofil), serta kalium (promotor fisiologi tanaman).

Yos menuturkan kandungan nitrogen dalam pupuk kandang biasanya berupa amonium (NH4). Sifat amonium senang membawa air sehingga membentuk sel raksasa dengan kandungan air tinggi di jaringan tanaman. “Otomatis ukuran buah menjadi besar, tetapi rasa manis berkurang,” ujar alumnus IPB itu.

Sinar matahari
Di kebun Tedjo buah naga tetap manis meski berukuran jumbo. Yos menduga, di kebun Tedjo proses fotosintesis berlangsung optimal karena tanaman mendapat sinar matahari penuh. Selain itu tanah kaya fosfor. Fosfor berperan dalam menangkap sinar matahari untuk diubah menjadi gula dalam proses fotosintesis. “Laju fotosintesis yang tinggi turut mempengaruhi laju pembentukan gula pada buah sehingga rasa buah menjadi manis,” ujar Yos.

Tedjo panen raya buah naga kuning pada Desember 2011-Februari 2012 sebanyak 364 kg buah dari 800 tanaman. Sebanyak 60% berukuran besar: bobot di atas 200 g. Dengan sosok besar dan rasa manis, buah Selenicereus megalanthus itu diterima langsung masuk ke 2 toko buah di Jakarta Selatan. Buah itu dibanderol Rp198.000 per kg di tingkat konsumen. Buah naga daging merah, Rp40.000 per kg.

Pengiriman setiap minggu minimal sebanyak 15 kg buah naga kuning dan 100 kg buah naga merah. Pemasaran lain melalui dunia maya. Itu pun biasanya langsung ludes dalam 2 hari setelah penawaran. Dengan ukuran jumbo dan rasa manis siapa tak mau buah naga dari kebun Tedjo. (Tri Istianingsih)

Auksin pada pupuk kandang memacu pertumbuhan buah naga  menjadi besar
S Tedjo Pawoko mengebunkan buah naga dengan sistem organik secara terpadu. Description: Naga serba jumbo berkat urine ternak
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: Naga serba jumbo berkat urine ternak

panen 1 ton buah naga dari pot

Buah Naga

nagaCara Salim mengebunkan buah naga sungguh tidak lazim: di pot dan hasilnya pun berkualitas tinggi. Suara kendaraan yang melaju di jalan tol Jagorawi terdengar jelas dari kebun itu. Maklum lokasi kebun dan jalan tol hanya dibatasi oleh selapis pagar beton dan jalur hijau. Di balik pagar setinggi 2,5 m itu menghampar 600 tabulampot buah naga yang tengah sarat buah di dua kavling lahan seluas total 3.000 m2. Setiap pot berdiameter 70 cm itu ditanami 3 tanaman anggota keluarga kaktus-kaktusan itu. Sebelum penanaman Salim mengisi pot dengan 5 kg media tanam berupa campuran tanah, pupuk kandang, dan sekam dengan perbandingan 1:3:3.

Dari setiap tanaman Salim membiarkan 5-6 sulur. Sulur-sulur produktif itulah yang tengah digelayuti buah-buah spektakuler. Sosok buah yang berkulit merah menyala itu besar-besar. Sebanyak 50 kg buah yang dipanen saat Trubus datang pada pertengahan Maret 2012 berbobot rata-rata 350-700 gram per buah. “Walaupun ditanam di pot, produksi buah tetap prima,” kata Salim bangga.

Kecil Top Naga

Dari 600 pot sebanyak 220 pot atau 660 tanaman sudah berproduksi optimal. Setiap musim raya pada November-Februari pemilik bengkel di kawasan Sunter, Jakarta Utara, itu menuai 1 ton buah naga superred Hylocereus costaricensis berkulit merah dan berdaging buah merah setiap bulan. Itu berarti selama 4 bulan musim raya ia mendapatkan 4 ton buah. Sebanyak 50-60% hasil panen masuk kelas super yakni buah berbobot 500-700 gram. Sisanya sebanyak 40% buah masuk ke kelas sedang berbobot 300-400 gram dan kecil yaitu di bawah 200 gram. Untuk kelas paling super berbobot 750 gram per buah masuk ke pasar hotel. Kelas-kelas lain untuk memasok pembeli perorangan dan toko buah.

Buah berbobot kurang dari 200 gram per buah misalnya, disukai konsumen langsung teman-teman sekantor sang istri, Nini. “Porsinya pas untuk satu orang dan cara konsumsinya praktis,” kata Nini. Kulit buah tinggal dikupas layaknya hendak mengonsumsi pisang, tidak perlu menggunakan pisau. Harga untuk buah naga kelas super Rp35.000-Rp40.000 per kg. Dari pemasaran itu Salim memperoleh pendapatan total hingga Rp20-juta per bulan.

Tanaman mulai belajar berbuah pada umur 1 tahun setelah tanam. Produksinya baru 3 kg per pot. Pada panen kedua produktivitas melonjak jadi 7 kg per pot per musim raya. Kini setiap pot bisa menghasilkan 20 kg setara 30-40 buah setiap panen raya. Citarasa buah manis dengan kadar gula 100 briks. Pantas masih dalam bentuk bunga pun sudah banyak yang memesan buah naga dari kebun Salim.

Air kolam untuk Buah Naga

Produksi tetap tinggi dan buah berukuran besar meski tanaman tumbuh dalam wadah pot yang terbatas karena Salim rutin menambahkan pupuk kandang. Setiap 6 bulan atau ketika media di pot menyusut 15% Salim menambahkan 2 kg pupuk kandang per pot. Salim tidak memberikan pupuk lain. Hanya saja untuk penyiraman setiap minggu ia mengguyurkan air dari kolam koi seluas 150 m2. Hasil metabolisme ikan di air kolam kaya akan bahan organik yang mendorong pertumbuhan buah naga.

Saat bunga mulai bermunculan, Salim sibuk mengawin-ngawinkan benang sari ke kepala putik. Sepekan setelah pentil buah muncul Salim menyeleksi buah di sulur. “Itu untuk mengontrol agar ukuran buah besar,” katanya. Pengalaman Suwarso Pawaka, pekebun buah naga di Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, bobot buah naga hasil penyerbukan oleh serangga hanya setengah bobot buah hasil silangan manusia.

Semula Salim menanam buah naga dalam pot sekadar hobi untuk mengisi halaman rumah nan luas. Penanaman dalam pot, “Agar tanaman mudah dipindahkan kalau nantinya di halaman rumah dipakai untuk mendirikan bangunan,” tutur kolektor koi itu. Sebanyak 100 bibit buah naga ditanam dalam 25 pot plastik berdiameter 70 cm. Bibit-bibit itu diikatkan pada tiang penyangga terbuat dari besi setinggi 2 m berdiameter 2 cm. Rupanya tiang terlalu tinggi sehingga pekerja sulit untuk menyampirkan sulur produktif, pun ketika panen. Selain itu umur tanaman siap berbuah menjadi lebih lama karena unsur hara dipakai untuk pertumbuhan sulur terlebih dahulu. Lagipula biayanya mahal: untuk satu pot lengkap dengan dari tiang besi butuh modal Rp350.000.

Buah Naga Mahal

Salim pun mengganti tiang besi dengan pipa polivinil khlorida (PVC) setinggi 1 m yang bagian dalamnya diisi adukan semen. Tiga buah pipa ditempelkan saling berhadapan di sisi pot, kemudian bagian atasnya disatukan oleh besi berbentuk lingkaran. Agar lebih ajek menahan sulur buah naga, bagian tengah pipa dikuatkan dengan kawat satu sama lain. Untuk pot berisi 3 tanaman, Salim cukup mengeluarkan Rp250.000. Kini sebanyak 575 pot menggunakan rancangan itu. Artinya total jenderal, biaya investasi pot dan tiang yang Salim keluarkan senilai Rp152,5-juta. Salim berhitung, biaya investasi itu bakal tertutup pada tahun kedua setelah pohon berbuah.

Menurut kepala Pusat Kajian Buah Tropika Institut Pertanian Bogor (PKBT-IPB), Sobir PhD, mengusahakan tanaman buah dalam pot untuk produksi buah secara komersil bisa menjadi tren di daerah perkotaan. “Hanya saja buah yang ditanam sebaiknya yang eksklusif dan memiliki nilai jual tinggi karena mahalnya biaya investasi,” tutur doktor alumnus Okayama University di Jepang itu. Keuntungan bertanam dalam pot, waktu berbuah bisa diatur, perawatan lebih intensif sehingga kualitas buah lebih baik. Di lantai dua dan tiga kediamannya Salim juga menanam buah naga. Buah hoki itu tumbuh di bedeng berupa bak semen. Sulur tanaman sukulen itu dirambatkan pada penyangga menyerupai tangga yang dibaringkan sepanjang 70 cm. Dari sana ia bisa melihat hamparan kebun buah naga dalam pot yang produktivitasnya spektakuler. (Pranawita Karina/Peliput: Bondan Wiryawan dan Tri Istianingsih)

Keterangan Foto :
Salim dan Nini buahkan naga dalam pot untuk skala komersial
Setiap pot menghasilkan 20 kg setara 30-40 buah 
Sebanyak 50-60% buah masuk kelas super berbobot 500-700 gram
Lantai 2 dan lantai 3 bangunan juga ditanami buah naga dan sayur
Salim memanfaatkan air kolam ikan yang sarat bahan organik untuk menyiram buah naga Description: panen 1 ton buah naga dari pot
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: panen 1 ton buah naga dari pot

Habis banjir, terbitlah langsat manis.

Langsat Manis

langsat“Hei, itu masih ada langsat. Kita beli dulu,” kata Mawardi SP MSc pada Trubus sambil menghentikan mobil yang dikendarainya saat menyusuri jalan-jalan di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada Februari 2012. Namun, penggemar langsat tanjung itu hampir urung membeli gara-gara penjaja buah berkata jujur. Menurut sang pedagang musim panen langsat tanjung sudah berlalu pada Januari silam.

“Jangan pergi dulu, silakan cicip ini langsat matraman,” kata Ahmadi, si pedagang. Setengah terpaksa Mawardi mengambil sebuah lalu menekannya. Cairan bening keluar dari pangkal langsat. Kulitnya gampang dikupas tanpa getah. Begitu ia mencicip cita rasa manis terasa lengket di lidah.

Kontan saja peneliti di Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) itu memborong sekeranjang. “Benar, manis sekali. Malah lebih manis daripada langsat tanjung,” katanya. Mawardi lantas membagi-bagikan buah itu pada kerabat dan kolega. Semua sepakat Lansium domesticum asal Matraman-pecahan dari Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar-itu tak kalah enak dengan langsat tanjung. Tingkat kemanisannya mencapai 130 briks.

Substitusi langsat


Menurut Ir Darmawati, kepala Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSB-TPH), Kalimantan Selatan, Kecamatan Matraman memang kalah ngetop sebagai sentra langsat dibanding Kecamatan Tanjung. “Populasi langsatnya paling hanya 1/6 Tanjung,” kata Darmawati. Di Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong, areal tanam langsat mencapai 210 ha (baca Trubus edisi Maret 2012 halaman 84-85, Langsat Tanjung: Sekali Cicip Langsung Ketagihan). Matraman-beserta Astambul-lebih dikenal sebagai sentra cempedak, srikaya, dan jeruk.

Biasanya langsat matraman mensubstitusi langsat tanjung saat pasokan di pasar kosong. Maklum, musim berbuah langsat matraman 1-2 bulan lebih lambat ketimbang langsat tanjung yang panen pada November-Januari. “Dahulu langsat matraman kerap dijual sebagai langsat tanjung. Sekarang pedagang berani menyebut matraman atau astambul untuk membedakan dengan langsat dari daerah lain yang asam dan bergetah,” kata Ahmadi. Langsat-langsat asam dan bergetah itu banyak meminjam nama tanjung untuk mendongkrak harga.

Menurut Ahmadi, pohon langsat di Matraman umumnya tumbuh alami dari biji. Tanaman anggota famili Meliaceae itu tumbuh subur di area berjarak 4-10 m dari bibir sungai. Setiap pohon dapat menghasilkan 30-100 kg buah tergantung umur. Bobot buahnya 20-25 g. “Bulan ini (Februari, red) saya sudah petik  10 kali sebanyak 2,5 ton dari 50 pohon,” kata Ahmadi yang mengepul buah dari Matraman.

Ia tak perlu repot-repot menjualnya ke pasar. Langsat yang matang pada akhir Januari hingga pengujung Februari cukup dijajakan di halaman depan rumah di Kelurahan Pasayangan, Kabupaten Banjar. Saking larisnya, di panen berikutnya Trubus gagal mencicip lagi gara-gara kalah cepat dengan pelanggan yang memborong 235 kg. “Dia sudah pesan 2 hari lalu untuk oleh-oleh keluarga di luar kota,” kata Ahmadi.

Menurut Ir Akhmad Rijali Saidy MS, staf pengajar di Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, wilayah Matraman memang tergolong subur. Hampir setiap tahun Matraman menjadi langganan banjir setinggi 1-2 meter. Air berasal dari luapan Sungai Riam Kiwa, Sungai Riam Kanan, dan Sungai Pengaron-anak Sungai Martapura-yang membawa partikel-partikel liat dari daerah hulu.

Daerah endapan


Partikel terkecil tanah itu lalu mengendap dan menambah kesuburan tanah di Matraman. “Permukaan liat bermuatan negatif sehingga KTK (kapasitas tukar kation, red) tanah meningkat,” kata Akhmad. KTK merupakan kemampuan tanah “memegang dan melepas” kation seperti kalsium, magnesium, dan kalium. Ketiga unsur hara yang bermuatan positif itu berperan meningkatkan kualitas buah. Sebut saja rasa manis dan ketahanan simpan.

“Daerah tepi sungai dan endapan memang cocok untuk langsat dan duku,” kata Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah dan Tropika (PKBT) IPB, Bogor. Langsat tanjung yang manis biasanya berasal dari bantaran maksimal sejauh 1 km dari Sungai Tabalong. Pun duku Palembang yang manis tumbuh di tepian Sungai Komering.

Pantas, menurut Mawardi, dalam 15 tahun terakhir banyak orang menanam langsat dan duku di Matraman. Bahkan, “Sekarang duku palembang hasil panen lokal mulai muncul di pasaran. Rasanya manis seperti yang ditanam di daerah asalnya,” kata Mawardi. Menurut Ir Kus Hendarto, dari Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, kisah itu mirip dengan duku palembang yang masuk ke wilayah sedimentasi di Pontianak, Kalimantan Barat, pada 100 tahun silam. Kini matraman mulai membuka pasar. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan) 

Keterangan Foto :
Langsat tanjung yang terkenal manis kini punya pesaing dari Matraman
Bobot buah langsat matraman berkisar 20-25 g per buah, rasanya manis
Pohon langsat di Matraman tumbuh alami dari bibit asal biji
Aliran Sungai Pengaron, umumnya langsat bercita rasa manis berasal dari pohon yang tumbuh sekitar 4-10 m dari bibir sungai
Langsat matraman  mudah dikupas dan kulit tanpa getah
Description: Habis banjir, terbitlah langsat manis.
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: Habis banjir, terbitlah langsat manis.

Kebun jeruk produktif dengan kalkun

Kebun jeruk

Rumah kaca seluas 600 m2 di kota Minamata, Prefektur Kumamoto, Jepang, itu menakjubkan.  Sebanyak 40 pohon jeruk berjarak tanam 3 m x 3 m sarat buah. Shouici Yasuda, sang pemilik,  sampai harus mengikat ranting tanaman anggota famili Rutaceae itu dengan tali ke besi yang melintang di atasnya agar tak patah.

Di lahan seluas 0,5 hektar Yasuda membangun 4 rumah kaca, dengan luasan sama. Tak seperti pekebun lain yang menanam atau satu jenis tanaman. Yasuda justru menerapkan sistem kebun campuran, yaitu satu rumah kaca berisi beragam jenis tanaman. Di salah satu rumah kaca setinggi 3,5 m ia tanam 5 jenis jeruk: summer sweet orange, lemon, sweet spring orange, citrus, dan dekopon.

Rp80.000 per buah
Saat ini dekopon merupakan jeruk termahal di Jepang dengan harga 800 yen setara Rp80.000 per buah. Maklum, dekopon satu-satunya jeruk yang dipanen saat musim semi. Dekopon berbuah pada Februari saat musim jeruk di Jepang telah usai. Bentuk buah dekopon unik, pangkal buah menggembung mirip pir. Wajar bila dekopon menjadi jeruk primadona Yasuda.

Dekopon merupakan hasil silangan antara kiyomi dan ponkan. Nama jeruk itu berasal dari gabungan kata deko-berarti cembung-dan pon dari kata ponkan, salah satu induknya. Buah dekopon manis dan tanpa biji. Warna dan ukuran buah sama dengan ponkan, bobot bisa mencapai 340 gram per buah.

Di Jepang dekopon termasuk jenis baru. Itu tampak dari belum banyak pekebun yang membudidayakannya. Yasuda menanam dekopon sejak 5 tahun silam dan sudah menikmati hasil panen 2 kali. Produktivitas dekopon 15–25 kg/pohon

Organik
Yasuda menanam jeruk dengan sistem pertanian organik. Bagi petani di Minamata, bertani secara organik adalah pilihan untuk mengenang tragedi Minamata, 50 tahun silam. “Bagaimana mungkin kami mengecam pencemaran kimia yang memakan banyak korban tapi tetap memproduksi bahan makanan menggunakan kimia,” tutur pria yang 12 tahun silam pernah mendampingi petani di Kenya itu.

Minamata adalah daerah penting dalam sejarah pencemaran bahan kimia yang memakan ribuan korban. Pada 1958 ratusan penduduk Minamata tewas akibat penyakit dengan gejala kelumpuhan saraf. Diduga mereka keracunan logam berat dari ikan hasil tangkapan di Teluk Minamata. Tak heran bila saat ini para petani, termasuk Yasuda, di desa kecil yang menghadap ke Laut Shiranui, bagian selatan Jepang, itu bertekad tidak akan menggunakan bahan-bahan kimia di lahan pertaniannya.

Yasuda memberikan pupuk organik campuran 3 karung pupuk kandang, 1 karung dedak, 1 karung tanah, 1 karung sekam, dan 1 kg mikroorganisme lokal saat dekopon berbunga pada Mei. Dosisnya, seperempat karung pupuk per tanaman. Tujuannya sebagai sumber tenaga bagi tanaman agar bunga menjadi buah. Campuran pupuk itu sudah melalui fermentasi selama seminggu. Pemupukan dengan dosis sama, diulang setelah panen untuk memulihkan tenaga yang dipakai saat tanaman berbuah.

Yasuda melakukan pemangkasan setiap setahun sekali agar pohon jeruk tidak terlalu rimbun. Dengan begitu seluruh bagian tanaman hingga tanah di bawahnya tetap mendapatkan sinar matahari. Paparan sinar mentari yang cukup membut tanaman berfotosintesis secara optimal.

Kalkun
Yasuda memilih membudidaya jeruk di dalam greenhouse supaya bisa menekan risiko serangan hama. Di dalam ruang  tertutup hama lebih terkendali. Bila ada serangan hama seperti ulat dan serangga, Yasuda mengambil hama itu satu per satu langsung dengan tangannya.

Sementara untuk membersihkan gulma Yasuda menerapkan teknik tua di dunia pertanian Jepang, yaitu memadukan tanaman budidaya dan hewan ternak. Shimpei Murakami, petani di Desa Iitate, Prefektur Fukushima misalnya, memanfaatkan bebek untuk mengendalikan gulma di sawah. Sementara Masanobu, petani di Prefektur Ehime, menggunakan ayam lokal Shikoku Selatan. Ayam itu punya kebiasaan memakan ulat dan serangga di tanaman sayuran tanpa mengais perakaran atau merusak tanaman.

Yasuda tidak memilih bebek seperti Murakami atau ayam lokal yang dimanfaatkan Masanobu, karena karakternya tidak cocok untuk tanaman keras seperti jeruk. Ia menggunakan kalkun. Pilihannya jatuh pada hewan yang dalam bahasa jepang disebut shichimencho itu setelah Yasuda mengetahui kalkun tergolong pemakan segala dan sangat rakus memakan rumput, terutama rumput muda yang masih lembut. “Rumput yang tumbuh di sepanjang musim semi hingga musim panas menjadi pakan kegemaran kalkun,” katanya.

Lagipula, kalkun pemburu serangga yang baik. Unggas itu memakan hampir semua jenis serangga, seperti kupu-kupu, kumbang, bahkan semut. Dengan kehadiran kalkun kebun jeruk Yasuda tak pernah mengalami gangguan serius akibat serangan hama dan penyakit tanaman. Gulma yang menjadi tanaman inang maupun serangga pembawa penyakit tak sempat berkembangbiak.

Menurut Yukiko Oyanagi, staf pengajar di Asian Rural Institute (ARI) di Jepang, selain efektif mengendalikan hama kalkun juga memberi nilai tambah ekonomis. Di Jepang, harga daging kalkun mencapai 100 yen setara Rp10.000 per 100 gram. Total jenderal Yasuda memelihara 15 kalkun dewasa sebagai penghalau hama dan pembersih gulma di lahannya seluas 0,5 ha.

Jika bobot seekor kalkun sekitar 7 kg, Yasuda memperoleh 7.000 yen setara Rp700.000 per ekor. Yasuda mempertahankan jumlah kalkun dewasa sebagai perawat kebun. Setiap kali bertelur, ia menetaskan sebagian sebagai calon pengganti. Sebagian lagi dijual dalam bentuk anakan. Akhirnya Yasuda menuai pendapatan ganda, dari jeruk yang sarat buah dan kalkun. (Syamsul Asinar Radjam, praktikus pertanian di Sukabumi dan alumnus Asian Rural Institute di Jepang)

Keterangan Foto :
Jeruk dekopon asal Jepang bentuknya unik, manis dan tanpa biji
Produktivitas per pohon 15-25 kg
Shouici Yasuda, kebunkan jeruk secara organik
Jeruk dekopon, dibanderol Rp80.000 per Buah
Kalkun sebagai pemberantas hama di kebun organik Description: Kebun jeruk produktif dengan kalkun
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: Kebun jeruk produktif dengan kalkun

Jambu Biji Tanpa Biji

sulit membuahkan jambu biji tanpa biji

jambu kristalKebanyakan hobiis sulit membuahkan jambu biji tanpa biji, tetapi Herfin Sasono  panen 39 buah per pohon berumur 4 tahun. Dua tahun memelihara jambu sukun alias jambu biji tanpa biji asal Thailand, tak sekalipun Herfin Sasono memetik buah. “Selama perawatan, tanaman memang beberapa kali berbunga.  Namun, tak satu pun bunga menjadi buah,” kata hobiis di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur, itu. Herfin kesal sehingga membuang tanaman itu. Selain sukun, Herfin mengoleksi jambu farang yang juga pelit berbuah.

Pohon anggota famili Myrtaceae itu menghasilkan satu buah saat berumur setahun. Padahal, jambu farang rajin berbunga. Sayang, setelah mekar, bunga gampang rontok. “Kerontokan bunga bisa sampai 95%,” katanya. Tak hanya bunga, buahnya pun mudah rontok. Jambu biji tanpa biji memang sohor sebagai tanaman yang sulit berbuah. Itu bukan hanya dialami oleh Herfin. Kepala Bagian Kebun Produksi dan Penelitian Taman Wisata Mekarsari (TWM), Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ir AF Margianasari, menghadapi persoalan serupa.



Kurang hormon
Margianasari rutin memberikan 3 karung setara 75 kg pupuk kandang per pohon setiap 6 bulan. Namun, farang berumur 10 tahun itu hanya menghasilkan 1-2 buah per pohon. Prakoso Heryono, penangkar buah di Demak, Jawa Tengah, mengatakan hal serupa. “Dari segi perawatan, kita lebih mudah membuahkan jambu kristal dibandingkan farang,” katanya. Pohon jambu kristal-jambu biji tanpa biji asal Taiwan-belajar berbuah pada umur 7 bulan. Itu pohon hasil cangkokan.

Pada umur belia itu produksi kristal 5-7 buah berbobot masing-masing 300 gram per buah. “Pada usia setahun, produksi 35 buah. Bandingkan dengan farang yang baru belajar berbuah pada umur setahun. Buahnya pun hanya sedikit, 4-5 buah,” kata Prakoso. Mengapa farang sulit berbuah? Pakar buah di Bogor, Jawa Barat, Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata MS, menuturkan semua jenis jambu sukun-seperti farang, sukun merah, dan jambu sukun Thailand-gampang rontok karena memiliki kromosom triploid atau 3n.

Buah-buahan yang berbiji umumnya berkromosom normal, yakni diploid atau 2n. Dampaknya pasokan hormon auksin dan giberelin cukup untuk menunjang tanaman berbuah lebat. Biji-biji yang sedang berkembang dalam buah itulah yang memasok kedua hormon itu. Nah, pada jambu sukun yang benar-benar tanpa biji seperti farang, tentu saja pasokan hormon auksin dan giberelin amat terbatas sehingga buah pun gagal berkembang atau rontok.

Pantas saja jambu kristal lebih mudah berbuah dibandingkan farang. “Jambu biji kristal masih ada bijinya meski sedikit, sekitar 5 biji per buah, sedangkan farang benar-benar tak berbiji,” kata Herfin. Meski begitu bukan berarti mustahil melebatkan buah jambu farang. Herfin membuktikannya setelah bertahun-tahun kesabarannya teruji. Jambu farang berumur 4 tahun di halaman rumahnya berbuah lebat, 39 buah per pohon.

Pupuk lengkap
Untuk merangsang pembungaan, mula-mula Herfin memangkas ujung-ujung cabang. “Biasanya bakal bunga muncul 3 pekan sejak pemangkasan,” kata Herfin. Bersamaan dengan itu ia juga memberikan pupuk NPK 15-10-30, dan unsur mikro komplet dan magnesium oksida 16% masing-masing berdosis 5 gram per liter.

Selain pemberian pupuk pada media tanam, ayah dua anak itu juga memberikan pupuk daun pada tajuk tanaman. Dengan perlakukan itu bakal bunga bermunculan di bekas pangkasan. Lalu 20 hari berselang, bunga bermekaran. Herfin bukan hanya menyemprotkan pupuk daun di seluruh permukaan daun, tapi juga tepat di bunga. “Hasilnya, bunga rontok hanya 20%, dari sebelumnya 95%,” ujar Herfin. Buah pun terus berkembang dan bertahan hingga 39 buah di pohon setinggi 1,5 meter. Pada Juni 2012 saat buah berumur 40 hari ia memetik satu demi satu. Rasanya manis, renyah, dan menyegarkan.

Menurut pakar pupuk di Jakarta, Yos Sutiyoso, “Asupan magnesium memaksimalkan fotosintesis sehingga energi untuk menyerap kalsium dalam tanah maksimal.” Kalsium bermanfaat untuk mencegah absisi atau penyekatan karena terbentuknya jaringan gabus antara ranting dan buah yang menyebabkan buah rontok.

Sebelum menemukan teknik itu Herfin melakukan beragam cara untuk membuahkan farang. Ia coba-coba memberikan NPK 15-15-15 berkonsentrasi 5 gram per 2 liter air. Ia mengocorkan 1 liter larutan pupuk per tanaman di sekitar batang. Frekuensi pemupukan sekali sebulan. Hasilnya, tanaman umur setahun hanya menghasilkan 1 buah. Untuk memacu buah pada periode berikutnya, ia meningkatkan frekuensi pemupukan NPK seimbang yang mengandung trace element dengan dosis sama menjadi 2 kali sebulan.

Selain itu ia juga memberikan pupuk mikro. Empat bulan pascapetik buah pertama, ia merangsang tanaman dengan pupuk yang lazim digunakan oleh para pekebun lengkeng. Hasilnya, bunga yang muncul 3 kali lipat lebih banyak “Dari semula 10 menjadi 30 bunga,” ujar Herfin. Namun, yang bertahan menjadi buah hanya 8-9 buah dengan bobot rata-rata 200 g. Yang lebih menyedihkan, tanaman merana pascaberbuah.

Selang setahun, tanaman kembali berbuah, tapi jumlahnya berkurang, cuma 3 buah. Kini dengan teknik tepat, farang berbuah lebat. Herfin pun tak perlu membuang jambu biji tanpa biji dari daftar koleksi. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Andari Titisari)


Keterangan Foto :
Berikan pupuk kalsium untuk mencegah absisi penyebab buah rontok
Farang tak berbiji sehingga pasokan hormon untuk perkembangan buah sedikit akibatnya buah mudah rontok Description: Jambu Biji Tanpa Biji
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: Jambu Biji Tanpa Biji

Jambu Farang, tanpa biji lebat di pot

Jambu Farang

jambu kristalJambu biji setinggi 1,5 meter dalam pot plastik hitam berdiameter 50 cm itu langsung mencuri perhatian. Di ujung-ujung tajuknya bergelayut buah berbentuk bulat memanjang dan tidak beraturan sebesar mug. Terdapat minimal 20 buah dewasa berukuran panjang 12-15 cm dan diameter 8-10 cm menggelayuti tanaman berumur 4 tahun itu. Itu belum termasuk buah pentil seukuran kelereng. Setiap tangkai yang berbuah merunduk karena keberatan menyangga buah yang bobotnya bisa mencapai 500 g itu. Bobot melonjak menjadi 800 g jika buah muncul di batang atau cabang utama. Sunardi, si empunya tanaman di Binjai, Sumatera Utara, itu menyebut itu tabulampot jambu biji pir. Namun, dari sosok buahnya sangat mirip dengan jambu biji farang. Yang disebut terakhir jambu biji tanpa biji yang dikenal pelit berbuah.

Kurang air
Prakoso Heryono, penangkar bibit buah di Semarang, Jawa Tengah, menuturkan jambu biji pir dan farang berbeda. “Jambu farang itu tanpa biji sama sekali, sedangkan jambu pir masih ada bijinya, meski hanya sedikit,” tuturnya. Farang berasal dari Thailand, jambu biji pir asal Taiwan-di sana disebut dengan nama guava pear hybrid. Pantas lima pohon jambu biji farang milik Eddy Susanto, hanya menghasilkan dua buah per tanaman umur 2 tahun. Karakter farang yang susah berbuah lebat juga yang membuat Cokro Hariyadi, di Tarakan, Kalimantan Timur, lebih memilih menanam kristal yang lebih mudah berbuah berbobot 300-400 g per buah di lahan seluas 0,5 ha. Diduga buah farang gampang rontok karena tidak tahan kekeringan sehingga butuh ketersediaan air yang memadai.

Peran bokashi
Lalu apa kunci Sunardi melebatkan jambu biji tanpa biji dalam pot? Warga Payarobah, Binjai Barat, itu menanam tanaman anggota famili Myrtaceae itu dalam pot berdiameter 50 cm. Sunardi menggunakan bibit asal cangkokan setinggi 60 cm. Kelahiran Binjai 43 tahun silam itu menggunakan media tanam berupa campuran tanah hitam, pupuk ayam fermentasi, dan sekam padi mentah yang sudah terdekomposisi. Sebagai nutrisi Sunardi mengocorkan bokashi cair. Bokashi dibuat berbahan kotoran sapi dan unggas yang difermentasi. (lihat ilustrasi Pintar Bikin Bokashi).

Bokashi kotoran sapi diberikan untuk merangsang pertumbuhan tanaman. Sedangkan kotoran ayam untuk merangsang pembungaan. Menurut Prof Dr Ir Iswandi Anas, M Sc, ahli pupuk organik di Institut Pertanian Bogor, aplikasi yang dilakukan Sunardi baik. “Yang dibutuhkan untuk pembuahan adalah nutrisi berkadar fosfor tinggi, dan itu ada pada kotoran ayam,” urainya.

Dosis pemberian 1 liter per tanaman per bulan. Untuk memacu keluarnya bunga, suami Elida Nasution itu memberikan zat perangsang bunga berbahan semiorganik asal Thailand saat pertumbuhan vegetatif tanaman optimal. Cirinya daun paling ujung sudah tua. Tiga minggu setelah aplikasi kedua, bunga muncul secara serempak. Bunga terbentuk akan menjadi buah berbobot 500-800 g 5 bulan kemudian. Si pelit berbuah pun lebat di dalam pot. (Syah Angkasa).

Keterangan Foto :
Sepot terdiri atas lebih dari 20 buah
Bobot farang mencapai 500-800 g per buah
Guava pear hybrid koleksi Sunardi, berbuah lebat dalam pot


Description: Jambu Farang, tanpa biji lebat di pot
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: Jambu Farang, tanpa biji lebat di pot

sawo, Sudah Besar, Manis Pula

Martapura sohor sebagai Kota Intan. Kota itu juga pantas mendapat julukan Kota Sawo.
Di Martapura hampir setiap rumah punya pohon sawo, makanya disebut juga Kota Sawo,” kata pekebun buah di Kotamadya Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Andy Putra Barito. Sawo binjai dapat diperoleh hampir setiap waktu karena pohon berbuah sepanjang tahun. Populasi sawo bahkan menyebar hingga ke Kota Banjarbaru yang berbatasan langsung dengan Martapura di bagian selatan. Di Kabupaten Banjar tumbuh 7.426 sawo binjai, 1.194 tanaman di antaranya berproduksi menghasilkan 397 ton per tahun.

Sebutan binjai bukan mengacu pada nama daerah di Provinsi Sumatera Utara, tetapi merujuk pada buah binjai Mangifera caesia. Masyarakat menyematkan nama buah itu karena sosok sawo memang besar, meski tak sebesar buah binjai. Bobot sawo binjai 110-200 g per buah dengan rata-rata 125 g. Ukuran itu setara dengan sawo landa mbou asal Bima, Nusa Tenggara Barat yang juga jumbo. Bobot sawo lain pada umumnya 50-100 g per buah.

Tambah stamina 
Buah besar itu bukan hasil budidaya secara intensif di kebun nan luas dengan perawatan intensif. Masyarakat menanam pohon anggota keluarga Sapotacea itu di pekarangan rumah dan tanpa perawatan berarti. Masyarakat Banjar menanam sawo binjai di pekarangan rumah agar mudah memetik. “Kebetulan ia tergolong bandel. Siapa pun, tanpa keahlian khusus bisa menanamnya,” kata Dr Achmadi MS, mantan kepala Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu), Solok, Sumatera Barat.

Sawo binjai mampu tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi 2.500 meter di atas permukaan laut. Sawo binjai juga tahan kekeringan. Menurut budayawan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Hasan Zainuddin, masyarakat Banjar dan suku Dayak, meyakini buah sawo mampu meningkatkan stamina tubuh. “Di zaman perjuangan dulu, para gerilyawan di Kalimantan mengonsumsi sawo dengan gula merah sebelum berperang. Mereka merasa lebih segar dan bersemangat,” tutur Hasan. Para pejuang masa silam juga lebih tahan menghadapi cuaca dingin Kalimantan setelah menyantap sawo.

Ahli gizi dari Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Institut Pertanian Bogor, Prof Emma S Wirakusuma, mengatakan bahwa setelah menyantap sawo tubuh terasa bertenaga karena gula sawo tergolong sederhana. “Bentuknya fruktosa dan sukrosa. Keduanya pati sederhana yang begitu masuk dalam tubuh langsung menjadi energi,” kata Emma.

Pemilik nurseri Arta Barokah, di Banjarbaru, Harjito pernah mengukur kadar kemanisan sawo binjai dengan refraktometer. Kadar gula sawo binjai 160 briks. “Ini lebih manis dibanding sawo yang pernah saya cicip,” kata Harjito. Ia kian istimewa karena daging buah kering. Lazimnya sawo lain manis tapi lembek dan becek di lidah. Sawo juga kaya mineral kalium (K) yang menjadi pengganti ion saat ion tubuh terkuras. Kalium dalam sawo mencapai 193 mg/100 g.

Bandel
Menurut Dr Moh Reza Tirtawinata MS, pakar buah di Bogor, Jawa Barat, nama sawo binjai kurang populer di tingkat nasional. “Ia jagoan buah lokal yang hanya terserap di pasar setempat. Di tingkat nasional belum teruji,” kata Reza. Nasibnya sama dengan sawo istimewa lain seperti sawo sukatali, sawo blambangan, sawo ijen, dan sawo land mbow yang hanya populer di daerah masing-masing.

Masa simpan sawo-sawo lezat itu pendek, hanya 3-4 hari, membuatnya sulit dipasarkan ke luar daerah. Meski demikian belakangan 1-2 pekebun mulai membudidayakan sawo binjai secara komersial. “Saya sedang uji coba pohon induk di lahan kritis, ternyata berbuah sepanjang tahun. Saat ini sedang diperbanyak untuk perluasan kebun 1 ha,” kata Nuriansyah, pemilik Iron Farm di Banjarbaru. Kelak, sawo binjai tak hanya dipetik dari pekarangan rumah, tapi juga dari kebun-kebun komersial. (Ridha YK, kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

Keterangan Foto :
Banjarbaru dan Martapura, sentra sawo binjai
Bobot buah rata-rata 125 g
Suku Banjar dan Suku Dayak percaya sawo meningkatkan stamina tubuh sehingga banyak ditanam di pekarangan
Kadar kemanisan 16O briks
Dapat ditemui hampir setiap waktu karena berbuah sepanjang tahun
Sawo sukatali unggulan Sumedang, Jawa Barat Description: sawo, Sudah Besar, Manis Pula
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: sawo, Sudah Besar, Manis Pula

Jumbo Setelah Dipingit

Jambu

Jambu air berwarna merah cerah, mulus, sebesar bola tenis. Mau?

Pangling nian melihat dalhari di stan Dinas Pertanian Provinsi Yogyakarta di pameran Pekan Flori dan Flora Nasional (PF2N) 2012, Medan, Sumatera Utara, pada medio Juni 2012 itu. Bentuk jambu air memang mirip segitiga sama sisi bersudut tumpul dan gemuk dengan warna merah tua cerah ciri khas dalhari. Hanya saja sosoknya lebih besar dan mulus.

Bobot per buah rata-rata 125 gram. Lima tahun silam varietas unggul nasional yang dirilis pada 2004 itu berbobot kurang dari 100 g per buah. Sosok dalhari yang kian ciamik itu membawa Trubus ke Dusun Krasakan, Desa Jogotirto, Kecamatan Brebah, Kabupaten Sleman, Provinsi Yogyakarta, sentra penanaman dalhari.

Plastik pingitan
Misran, pekebun yang juga ketua Asosiasi Jambu Air Dalhari Sembada, menuturkan penampilan buah mulus berwarna merah cerah dan bongsor itu karena perawatan intensif. “Kami melakukan pembungkusan bunga dan seleksi buah sejak dini,” kata pekebun dalhari sejak 6 tahun silam itu. Pemberongsongan dilakukan sejak ada 1-3 bunga mekar dalam satu dompol hingga buah panen.

Dengan diberongsong buah bebas dari serangan lalat buah penyebab busuk, pun kerusakan mekanis akibat disantap hewan pemakan buah, seperti kalelawar dan tupai. Menurut Kepala Bagian Kebun Produksi dan Penelitian Taman Wisata Mekarsari (TWM), Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ir AF Margianasari, buah dengan kulit lunak seperti jambu air memang rentan terkena serangan lalat buah. “Serangan lalat buah pada jambu air bisa mengurangi produksi sampai 80%,” katanya.

Pembungkusan sejak muncul bunga cukup efektif mencegah serangan lalat buah. Buktinya di Dusun Krasakan kerusakan buah akibat serangan Dacus pedetris dapat ditekan hingga 90%. Menurut Riris-sapaan Margianasari-proses “pingitan” sejak bunga tidak mengganggu polinasi untuk membentuk buah. Sebab penyerbukan masih dapat terjadi antarbunga dalam satu dompol.

Misran membrongsong setiap dompol bunga dengan plastik bening ukuran 1 kilogram. “Dengan plastik bening lebih mudah mengamati perkembangan bunga dan buah. Bandingkan jika menggunakan plastik warna hitam sehingga perkembangan bunga dan buah tidak terlihat,” katanya.

Riris menambahkan, warna hitam menyerap panas yang lebih banyak sehingga membuat suhu dan kelembapan di dalam kantong pembungkus sangat tinggi. “Kondisi itu kurang baik untuk fisiologi buah. Buah lebih cepat matang padahal ukutannya belum optimal," kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu. Risiko, buah busuk karena serangan cendawan.

Untuk mencegah kelembapan tinggi, buat lubang pada kantong pembungkus sebagai jalur sirkulasi udara.

Seleksi buah

Untuk mendapatkan buah berukuran jumbo, Misran melakukan seleksi buah. Sebab pembungkusan tanpa penjarangan menyebabkan kualitas dan produksi buah rendah.

Seleksi dilakukan saat buah pentil. Biasanya buah terbentuk 30-35 hari setelah pembungkusan bunga. Saat buah masih pentil itulah waktu tepat untuk menjarangkan. Dari 8-12 buah dalam satu dompol Misran mempertahankan 4-6 buah saja. “Buah yang dipertahankan bentuknya bagus, tidak terdapat bercak-bercak hitam, dan ukurannya lebih besar dibandingkan buah lain dalam satu dompol,” kata ayah dua anak itu.

Penjarangan membuat aliran karbohidrat hasil fotosintesis dari daun melalui cabang dan batang lebih terfokus pada beberapa buah saja. Buah lebih banyak mendapat pasokan karbohidrat sehingga ukuran pun lebih besar.

Pada musim panen 2011, dari tujuh pohon berumur 10-12 tahun Misran menuai 3,5-7 kuintal buah per panen. Dalam setahun pekebun di Dusun Krasakan bisa 3 kali panen, yaitu setiap dua bulan pada Mei-Oktober. Artinya total panen per tahun mencapai 10,5-28 kuintal.

Dari jumlah itu, sebanyak 10% masuk dalam kelas super. Kriteria kelas itu untuk ukuran kurang dari 8 buah/kg rata-rata mencapai 5-6 buah/kg. Itu berarti bobot rata-rata 150 g per buah. Lainnya masuk kelas A (8-10 buah/kg) sebanyak 50%; kelas B (11-15 buah/kg), 25%; dan kelas C (>15  buah/kg), 15%.

Bandingkan ketika Misran belum melakukan seleksi dan pemberongsongan. “Hasil panen tidak ada yang masuk kelas super,” tuturnya. Maklum warna buah merah pucat, bentuk tidak sempurna, dan permukaan bergerinjul. Di dalam daging buah kerap ditemukan larva lalat buah. Dari total panen 1,2 kuintal pada 2008 misalnya, sebanyak 35% masuk kelas A (isi 8-10 buah/ kg), kelas B (50%), dan C (15%).

Akibatnya harga jual anjlok hanya Rp2.000 per kg. Omzetnya hanya Rp240.000 per panen. Setelah melakukan seleksi dan pemberongsongan buah diikuti dengan sortir, harga buah tanaman anggota famili Myrtaceae itu melonjak. Harga kelas super Rp15.000 per kg, kelas A (Rp12.000), kelas B (Rp10.000), dan C (Rp8.000 per kg). Artinya, sekali panen Misran memperoleh omzet minimal Rp3.920.000 dari 7 pohon.

Pupuk optimal

Untuk memperoleh panen maksimal ia memupuk pohon 2 kali setahun, yaitu menjelang akhir musim hujan pada Maret-April dan September-Oktober. Dosis pemupukan disesuaikan dengan umur tanaman. Untuk pohon berumur 3 tahun, Misran memberikan 40-60 kg kompos dan 0,5 kg NPK. Dosis pupuk NPK naik 50 gram setiap umur pohon bertambah satu tahun.

Pupuk ditabur ke dalam parit kecil mengelilingi batang dengan jarak sesuai kanopi pohon sedalam 40-50 cm. Selanjutnya tutup dengan tanah. Penyiraman dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore. Misran juga rutin memangkas cabang tidak produktif. Pemangkasan mempertahankan tinggi tanaman, membentuk tajuk agar memudahkan pemeliharaan dan pemanenan buah, juga merangsang pembungaan dan memotong siklus organisme pengganggu tanaman. Dengan perawatan intensif, dalhari pun bikin pangling. (Muhamad Khais Prayoga)

Keterangan Foto :
Misran, ketua Asosiasi Jambu Air Dalhari Sembada, pembungkusan membuat penampilan buah mulus dan terhindar dari lalat buah

Bobot rata-rata 125 gram per buah. Rasanya manis sedikit asam dan kandungan air mencapai 86,5% Description: Jumbo Setelah Dipingit
Rating: 4.5
Reviewer: Djoko Hardiyanto
ItemReviewed: Jumbo Setelah Dipingit